This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 01 Oktober 2017

Etika Dalam Bisnis


Etika bisnis merupakan suatu rangkaian prinsip /aturan/norma yang harus dikuti apabila menjalankan bisnis. Etika dalam suatu kelompok dapat menjadi pengingant anggota bisnis satu dengan yang lainnya mengenai tindakan yang terpuji.  Etika bisnis berkaitan dengan masalah penilaian terhadao kegiatan dan prilaku bisnis yang mengacu pada kebeneran atau kejujuran dalam berbisnis. Etika bisnis ini ditujukan kepada pimpinan, manajer, karyawan, agen atau siapun yang bersangkutan dengan bisnis tersebut guna terciptanya kebenaran dalam berbisnis.

1.    Lingkungan bisnis yang mempengaruhi prilaku etika
Pada umumnya perushaan menginginkan keberlangsunga aktivitas perusahaan berjalan dengan baik, karena dari itu perusahaan pun selalu melihat etika calon karyawan baru saat melakukan penerimaan karyawan baru. Tetapi, ketika sudah berada dalam lingkungan bisnis, etika karyawan pun dapat dipengaruhi oleh:
·         Budaya organisasi
Budaya yang ada di perusahaan  akan berdampak kepada karyawan dalam bekerja dan rekan kerja, pelanggan, maupun pemasok. Budaya organisasi mencakup manajemen terhadap karyawan , rencana pertumbuhan, dan otonomi ataupun pemberdayaan yang diberikan kepada karyawan.
·         Ekonomi lokal
Ekonomi local dapat dilihat dari pekerjaan karyawan yang dipengaruhi oleh keadaan perekonomian setempat. Jika pekerjaan yang banyak dan ekonomi booming, karyawan akan lebih bahagia dan kinerja merka pun akan menignkat. Sedangkan, saat-saat sulit dan tingkat pengangguran yang tinggi, karyawan pun dapat menjadi takut dan cemas dalam berkerja.  Kecemasan ini mempengaruhi pada kinerja yang lebih rendah dan penyimpangan dalam penilaiaan.
·         Reputasi perusahaan dalam organisasi
Presepsi karyawan tentang bagaiman reputasi perusahaan mereka dilihat oleh masyarakat dapat mempengaruhi prilaku. Jika karyawan sadar bahwa perusahaanya dianggap curang atau yang menyalahi etika bisnis, maka karywan itu akan melakukan kecurang juga pada perusahaan terserbut. Sedangkan, jika perushaan dinilai baik oleh masyarakat, maka karyawan akan melakukan hal  sesuai dengan etika yang shearusnya.

2.    Kesaling-tergantungan antara bisnis dan masyarakat
Bisnis melibatkan hubungan ekonomi dengan banyak kelompok orang yang dikenal sebagai stakeholders, yaitu pelanggan, tenaga kerja, stockholders, suppliers, pesaing, pemerintah dan komunitas. Oleh karena itu para pebisnis harus mempertimbangkan semua bagian dari stakeholders dan bukan hanya stockholdernya saja. Pelanggan, penyalur, pesaing, tenaga kerja dan bahkan pemegang saham adalah pihak yang sering berperan untuk keberhasilan dalam berbisnis.
Lingkungan bisnis yang mempengaruhi perilaku etika adalah lingkungan makro dan lingkungan mikro. Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat dalam hubungan langsung maupun tidak langsung. Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubungan yang bersifat interaktif.
bisnis dengan masyarakat umum juga memiliki etika pergaulan yaitu etika pergaulan bisnis.Etika pergaulan bisnis dapat meliputi beberapa hal antara lain adalah :

·         Hubungan antara bisnis dengan langganan / konsumen
Hubungan antara bisnis dengan langgananya adalah hubungan yang paling banyak dilakukan, oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulanya secara baik.
·         Hubungan dengan karyawan
Manajer yang pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya sering kali harus berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan karyawan ini meliputi beberapa hal yakni : Penarikan, Latihan, Promosi atau kenaikan pangkat, Tranfer, maupun lay-off atau pemecatan / PHK (pemutusan hubungan kerja).
·         Hubungan antar bisnis
Hubungan ini merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahan yang lain. Hal ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan para pesaing, grosir, pengecer, agen tunggal maupun distributor.
·         Hubungan dengan Investo
Perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas dan terutama yang akan atau telah “go publik” harus menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada para insvestor atau calon investornya. prospek perusahan yang go public tersebut. Jangan sampai terjadi adanya manipulasi atau penipuan terhadap informasi terhadap hal ini.
·         Hubungan dengan Lembaga-Lembaga Keuangan
Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan terutama pajak pada umumnya merupakan hubungan pergaulan yang bersifat finansial.

3.    Kepedulian prilaku bisnis terhadap etika
Etika bisnis dalam suatu perusahaan mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu bisnis yang kokoh dan kuat dan mempunyai daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan untuk menciptakan nilai yang tinggi. Perilaku etis dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi kelangsungan hidup bisnis itu sendiri. Bisnis yang tidak etis akan merugikan bisnis itu sendiri terutama jika dilihat dari perspektif jangka panjang. Bisnis yang baik bukan saja bisnis yang menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis tersebut menguntungkan juga bisnis yang baik secara moral.
Tolak ukur dalam etika bisnis adalah standar moral. Seorang pengusaha yang beretika selalu mempertimbangkan standar moral dalam mengambil keputusan, apakah keputusan ini dinilai baik atau buruk oleh masyarakat, apakah keputusan ini berdampak baik atau buruk bagi orang lain, atau apakah keputusan ini melanggar hukum.
Dalam menciptakan etika bisnis perlu diperhatikan beberapa hal, antara lain:
•    pengendalian diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
•    pengembangan tanggung jawab social
•    mempertahankan jati diri, menciptakan persaingan yang sehat
•    menerapkan konsep pembangunan yang berkelanjutan
•    mampu menyatakan hal yang benar
•   Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah
•    Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama dan lain sebagainya.

4.    Perkembangan dalam etika bisnis
Kegiatan perdagangan atau bisnis tidak pernah luput dari sorotan etika. Perhatian etika untuk bisnis dapat dikatakan seumur dengan bisnis itu sendiri. Perbuatan menipu dalam bisnis , mengurangi timbangan atau takaran, berbohong merupakan contoh-contoh kongkrit adanya hubungan antara etika dan bisnis. Jika semakin besar perusahaan dan diindikasikan adanya kecurangan, maka semakin besar pula kecurangan yang dilakukan oleh karyawan karena tidak adanya etika. Tetapi, lain halnya jika perusahaan memiliki budaya yang baik, perusahaan semakain berkembang dalam segi bisnis, karyawan berkembang dalam segi etika atau semakin professional dalam kinerjanya.

5.    Etika bisnis dan akuntan
Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia yang biasa disingkat IAI. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi.
Akuntansi sebagai profesi memiliki kewajiban untuk mengabaikan kepentingan pribadi dan mengikuti etika profesi yang telah ditetapkan. Kewajiban akuntan sebagai profesional mempunyai tiga kewajiban yaitu; kompetensi, objektif dan mengutamakan integritas. Kasus enron, xerok, merck, vivendi universal dan bebarapa kasus serupa lainnya telah membuktikan bahwa etika sangat diperlukan dalam bisnis. Tanpa etika di dalam bisnis, maka perdaganan tidak akan berfungsi dengan baik.

6.     Contoh kasus
Kontra Kasus PT Indo Beras Unggul
Kasus beras produksi  PT Indo Beras Unggul (IBU) menimbulkan polemik panjang di masyarakat. Ada pihak yang setuju dengan langkah pemerintah dan polisi membongkar permainan yang diduga dilakukan PT IBU.
Polisi menggerebek gudang beras milik PT IBU di Bekasi, Jawa Barat dua pekan lalu. Dalam penggerebekan tersebut, polisi polisi menyita 1.100 ton beras siap edar dalam kemasan berbagai merek antara lain Ayam Jago, Maknyuss, Pandan Wangi, dan Rojo Lele.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kapolri Tito Karnavian, dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usahan Syarkawi Rauf yang kemudian datang ke tempat penggerebekan lantas menggelar jumpa pers menjelaskan indikasi pelanggaran yang dilakukan PT IBU.Setelah penggerebekan tersebut, pro dan kontra yang tajam muncul di masyarakat.

·         Pembelian gabah petani
Harga acuan pembelian gabah panen di tingkat petani ditetapkan sebesar Rp 3.700 per kg. Sementara itu, PT IBU dilaporkan membeli gabah dari petani sebesar Rp 4.900 per kg. Artinya, PT IBU membeli gabah petani lebih tinggi dibandingkan harga acuan.
Pihak yang kontra terhadap pemerintah dan polisi menilai apa yang dilakukan PT IBU justru bagus untuk petani. Dengan menjual harga gabah lebih tinggi ke PT IBU, pendapatan petani tentu akan lebih besar dan ujungnya akan meningkatkan kesejahteraan petani. Jadi, PT IBU justru membantu program pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup petani.
Manajemen PT IBU menambahkan, gabah seharga Rp 4.900 per kg yang dibeli PT IBU memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan gabah seharga Rp 3.700. Selain itu, harga Rp 4.900 merupakan harga yang diterima di gudang PT IBU.
Usaha-usaha penggilingan skala kecil atau mikro akan mati karena tidak mendapat pasokan. Sebab, petani tentu lebih senang menjual gabahnya ke PT IBU dengan harga Rp 4.900 per kg ketimbang ke usaha penggilingan kecil yang hanya mampu membeli di sekitaran harga Rp 3.700 per kg.
Usaha penggilingan kecil yang sekarat kemudian diakuisisi oleh PT IBU sehingga akhirnya PT IBU menguasai usaha penggilingan mulai dari skala mikro hingga penggilingan besar.
Dengan penguasaan stok gabah yang melimpah, pihak yang pro pemerintah berpendapat akan mudah bagi PT IBU untuk menetapkan harga termasuk di tingkat konsumen sekalipun.

·         Harga beras di tingkat konsumen
Sebagian konsumen juga menilai harga beras Maknyuss tidak tergolong mahal dan memang sesuai dengan mutunya.
Namun, pemerintah dan polisi menilai PT IBU menjual produk berasnya terlalu tinggi di atas harga acuan yang ditetapkan sebesar Rp 9.500 per kg.
Ini membuat tata niaga beras tidak berkeadilan. Petani sebagai produsen beras hanya mendapatkan untung kecil, sementara pedagang mendapatkan untung besar dengan merekayasa sedemikian rupa.


Analisis:
Dari kasus ini dapat kita lihat penyimpangan etika bisnis dari PT. IBU yang mana melakukan pembelian beras dari para petani dengan harga yang tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, hal ini  selayaknya mengarah kepada praktik monopoli, ketika PT. IBU membeli gabah diatas ketetapan pemerintah sehingga dapat menyebabkan usaha-usaha mikro akan mati karena  tidak mendapat pasokan, setelah usaha-usaha kecil yang sedang merugi diakuisisi oleh PT. IBU sehinnga akhirnya mereka menguasai usaha penggilingan mulai dari skala mikro sampai makro.
Dalam penentuan harga beras, menurut pemerintah PT. IBU  menjual produk berasnya terlalu tinggi diatas harga acuan yang ditetapkan.  Seharusnya PT. IBU mengikuti ketetapan yang berlaku, karena ketika PT. IBU mengikuti kebijakan manajemen yang ada dapat menimbulkan kerugian disebelah pihak.

Sumber: